My world

Friday, September 19, 2008

Posisi Tidur





Aisha the chubby






Omar in act






Melepas Lelah


Melepas Lelah


akhirnya...baru kali ini sempat ngeposting lagi.

Setelah melahirkan anak ke-2 (padahal aisha dah 6 bulan :D ), rasanya 24 jam sehari masih kurang untuk beraktivitas.

Ada sebuah pelajaran berharga dari daily phone ku ke mama. Beliau membagi ilmunya bahwa dari sedini mungkin, anak diajarkan untuk merasa cukup. Salah satunya cukup makan, alias berhenti sebelum kenyang, seperti yang diajarkan rasulullah.

Bagaimana caranya?

Kita sebagai orang tua cenderung ingin anaknya bisa makan banyak, pusing deh kalo punya anak susyeh makan. Nah.. mulailah mengubah cara pandang kita, anak yang penting tercukupi kebutuhan kalorinya per hari, ga perlu bolak balik dijejelin makanan yang pada akhirnya akan membentuk pola biologis dari tubuh sang anak.

Pola yang bagaimana ??? ya pola makan banyak itu... jangan sampai seperti kebanyakan orang indonesia kalo ga makan nasi berarti blom makan hehehe..

dari pola makan yang berhenti sebelum kenyang, akan membiasakan diri anak untuk bisa menahan keinginannya.

Hmmm..masuk akal juga.. mau aku praktekin ke anak-anak ah....

Wednesday, April 23, 2008

AISHAKU NAPASNYA NGROK NGROK


AISHAKU NAPASNYA NGROK NGROK


Dari lahir sampai sekarang (1 bulan) aishaku napasnya seringkali mengeluarkan bunyi ngrok-ngrok...kayaknya banyaaak banget lendir di pangkal tenggorokannya. Sekilas aku sudah tahu beberapa bayi baru lahir akan mengalami hal ini, tapi info penyebab or penanggulangannya masih kurang. Beruntung aku nemuin artikel di tabloid nakita. Silahkan disimak....


1. Dok, mengapa napas bayi sampai berbunyi ngrok…ngrok…seperti ada lendir yang tertahan di tenggorokannya?
Bunyi ngrok...ngrok...itu disebabkan kemampuan membersihkan lendir pada bayi yang belum optimal. Saluran napas setiap saat akan memproduksi sekret (lendir) yang bermanfaat untuk fungsi pernapasan itu sendiri. Sekret berfungsi menahan benda asing atau kuman yang masuk ke dalam saluran napas. Lendir akan dibersihkan oleh sebuah sistem pembersihan di dinding saluran napas yang disebut sistem bersihan mukosilier. Jumlah sekret yang sedikit secara tak sadar akan tertelan. Bila banyak barulah lendir ini merangsang refleks batuk. Pada bayi-bayi muda, kemampuan mukosilier ini belum berlangsung optimal sehingga sekretnya tak bisa dibersihkan secara sempurna. Ini menjawab mengapa bunyi napas mereka kerap terdengar ngrok-ngrok. Namun seiring perjalanan usia anak, maka kemampuan mukosiliernya akan semakin baik sehingga bunyi ngrok-ngrok pada napas bayi akan menghilang dengan sendirinya.
2. Sampai usia berapa umumnya bayi bernapas ngrok-ngrok?
Biasanya bayi muda usia 1–2 bulan masih mengalami ini karena sistem bersihan mukosiliernya belum optimal. Jadi tak perlu khawatir. Lewat dari usia tersebut, jika bunyi napasnya masih ngrok-ngrok, maka harus dilakukan pemeriksaan. Berarti ada ketidaknormalan yang harus dicari tahu penyebabnya.
3. Apakah benar penyebab napas berbunyi karena sewaktu bayi lahir, perawatnya di rumah sakit tidak membersihkan saluran penapasan bayi dengan baik sehingga lendirnya masih tersisa banyak?
Itu anggapan yang salah. Bila memang mereka kurang baik membersihkan lendir bayi, saat ini mestinya si bayi sudah berada di surga. Nyatanya si kecil masih di sini, jadi petugas di rumah sakit sudah melakukan tugasnya dengan baik. Kondisi seperti ini sering dinamakan chesty baby, suatu istilah yang longgar untuk menggambarkan seorang bayi yang tampaknya mudah sekali mengalami gejala di saluran napas, atau disebut chestiness. Gejala pernapasan ini berupa batuk, mengi (napas ngik-ngik), stridor, napas berbunyi (noisy breathing) atau sekadar napas ngrok-ngrok. Fenomena ini cukup sering dijumpai sehari-hari, sayangnya kita tidak mempunyai padanan kata yang tepat. Jadi istilah chestiness dapat dipakai untuk menyebut napas ngrok-ngrok hingga keluhan batuk kronik berulang.
4. Apa yang bisa dilakukan orangtua bila napas bayinya terdengar ngrok-ngrok seperti itu?
Oleskan minyak telon atau balsam khusus bayi di wilayah dada si kecil. Uapnya yang terhirup dapat membantu melegakan pernapasannya. Selain itu lakukan pemijatan dengan lembut pada dada kiri dan kanan, dari bagian bawah menuju ke bagian atas atau sekitar wilayah leher. Gerakan pemijatan ini akan membantu bayi mengencerkan lendir yang ada di tenggorokan.
5. Adakah hal lain yang patut diperhatikan pada chesty baby?
Merokok pasif merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya chestiness. Karenanya, pajanan asap rokok merupakan satu satu hal yang wajib dihindari oleh bayi. Pajanan ini bukan hanya terjadi bila si perokok merokok dalam rumah, melainkan juga di teras, garasi, dan kamar mandi karena polusi asap bisa menelusup ke mana pun.Jauh dari asap rokok biasanya sudah sangat mengurangi keluhan chestiness, bahkan gejalanya bisa hilang sama sekali. Waspadai juga asap dapur. Alangkah baiknya kalau asap dapur segera disaring dengan alat penyedot asap agar tak menimbulkan polusi dan mengganggu kenyamanan bayi.
6. Kalau masih terus berlanjut hingga bayi berusia lebih dari 2 bulan, umumnya penyebabnya apa, Dok?
Keluhan chestiness akan lebih menonjol bila ada riwayat alergi dalam keluarga. Untuk itu perlu ditelusuri adanya alergi dalam keluarga ayah dan ibu penderita, kalau perlu hingga ke nenek atau kakeknya. Sebagian besar dari chesty baby ternyata memiliki bakat asma. Oleh karena itu, bila setelah usia 2 bulan napas bayi masih terdengar belum bersih, perlu penggalian ke arah asma. Perhatikan apakah pola tersebut itu berulang, gejala memburuk di malam hari, dan membaik dengan pemberian obat asma. Perlu juga ditelusuri faktor pencetus dari lingkungan (debu rumah, bulu binatang, asap, udara dingin dan lain-lain), pencetus dalam bentuk makanan (untuk bayi yang lebih besar), atau tertular salesma (common cold).Penyebab lain chestiness, yakni manifestasi infeksi respiratorik akut (IRA) yang berulang karena virus (recurrent viral ARI). Bayi sehat mengalami beberapa kali episode IRA, normalnya tak lebih dari 6-8 kali per tahun dengan durasi kurang dari seminggu, umumnya 2-3 hari. Pada chesty baby, episode batuk pilek lebih sering terjadi, bisa dengan atau tanpa demam. Durasi chestiness juga berlangsung lebih lama, lebih dari seminggu atau bahkan lebih dari dua minggu.Hingga saat ini belum jelas mengapa sebagian bayi mudah mengalami chestiness. Tapi mengingat pola yang sama dapat ditemukan dalam keluarga, diduga faktor genetik juga ikut berperan.
7. Ternyata cukup kompleks juga ya, Dok? Apakah masih ada penyebab lain?
Pada sebagian kecil chesty babies juga ditemukan penyakit dasar yang lebih serius seperti refluks gastroesofagus (aliran balik cairan dari lambung ke esofagus), laringotrakeomalasia (kelemahan saluran tenggorokan/ trakea), gangguan menelan, bronkiektasis, dan lain-lain. Anak dengan gangguan saraf otot (neuromuskular), misalnya penderita palsi serebral biasanya juga mengalami gejala chestiness. Anak tersebut mengalami gangguan fungsi otot menelan dan atau otot yang berperan dalam proses batuk. Biasanya ia juga mengalami gangguan fungsi mukosilier. Sebagai hasilnya, pasien dengan gangguan neuromuskular menjadi chesty baby dengan gejala makin berat bila ada faktor pendukung, misalnya IRA atau polutan dan alergen.Nah, cukup puas Bu, semoga tidak bingung lagi.

Monday, August 6, 2007

JANGAN ANGGAP ENTENG CAMPAK


JANGAN ANGGAP ENTENG CAMPAK

Campak hanya akan menulari sekali dalam seumur hidup. Bisa terjadi pada anak-anak yang masih kecil maupun yang sudah besar. Bila daya tahan tubuh kuat, bisa saja anak tidak terkena campak sama sekali.
"Hati-hati, lo, sekarang musim tampek. Kemarin saja anak tetangga saya kena. Sekarang anak saya ketularan. Di seluruh tubuhnya timbul bercak-bercak merah dan badannya panas sekali," begitu peringatan seorang ibu kepada teman-temannya. Apa sih yang dimaksud dengan tampek itu? Dijawab oleh dr. Asti Praborini, SpA., yang akrab disapa Rini, tampek tak lain adalah campak.
"Tampek merupakan bahasa Jawa namun istilah Indonesianya adalah campak. Sedangkan orang dari Irian menyebutnya serampah. Dalam bahasa latin disebut sebagai morbili atau rubeolla. Sementara dalam bahasa Inggris, measles," tutur spesialis anak dari RS MH Thamrin Internasional, Jakarta ini.
PENYEBAB CAMPAK
Penyebab penyakit campak adalah virus campak atau morbili. Pada awalnya, gejala campak agak sulit dideteksi. Namun, secara garis besar penyakit campak bisa dibagi menjadi 3 fase. Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini, anak sudah mulai terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak gejala apa pun. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak belum keluar. Pada fase kedua (fase prodormal) barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu, seperti batuk, pilek, dan demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila melihat sesuatu, mata akan silau (photo phobia). Di sebelah dalam mulutmuncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Terkadang anak juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat Celcius.
Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil.
Bercak-bercak merah ini dalam bahasa kedokterannya disebut makulopapuler. Biasanya bercak memenuhi seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, ini pun tergantung padadaya tahan tubuh masing-masing anak. Bila daya tahan tubuhnya baik maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Umumnya jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok atau sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa penyembuhan yang butuh waktu sampai 2 minggu.
CARA PENULARAN
Yang patut diwaspadai, penularan penyakit campak berlangsung sangat cepat melalui perantara udara atau semburan ludah (droplet) yang terisap lewat hidung atau mulut. Penularan terjadi pada masa fase kedua hingga 1-2 hari setelah bercak merah timbul. Sayangnya, masih ada anggapan yang salah dalam masyarakat akan penyakit campak. Misalnya, bila satu anggota keluarga terkena campak, maka anggota keluarga lain sengaja ditulari agar sekalian repot. Alasannya, bukankah campak hanya terjadi sekali seumur hidup? Jadi kalau waktu kecil sudah pernah campak, setelah itu akan aman selamanya. Ini jelas pendapat yang tidak benar karena penyakit bukanlah untuk ditularkan. Apalagi dampak campak cukup berbahaya.
Anggapan lain yang patut diluruskan, yaitu bahwa bercak merah pada campak harus keluar semua karena kalau tidak malah akan membahayakan penderita. Yang benar, justru jumlah bercak menandakan ringan-beratnya campak. Semakin banyak jumlahnya berarti semakin berat penyakitnya. Dokter justru akan mengusahakan agar campak pada anak tidak menjadi semakin parah atau bercak merahnya tidak sampai muncul di sekujur tubuh.
Selain itu, masih banyak orang tua yang memperlakukan anak campak secara salah. Salah satunya, anak tidak dimandikan. Dikhawatirkan, keringat yang melekat pada tubuh anak menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk kulit dengan tangan yang tidak bersih sehingga terjadi infeksi berupa bisul-bisul kecil bernanah. Sebaliknya, dengan mandi anak akan merasa nyaman.
PENGOBATAN GEJALA
Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat antikejang bila anak punya bakat kejang.
Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi.
Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
Gejala ensefalitis yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan panasnya susah turun karena sudah terjadi infeksi "tumpangan" yang sampai ke otak. Lain halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk berdahak, pilek, dan sesak napas. Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya bukan karena penyakit campak itu sendiri, melainkan karena komplikasi. Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang gizi.
PENANGANAN YANG BENAR
Inilah yang dianjurkan Rini:
* Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
* Anak campak perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi campak.
* Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
* Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
* Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
* Anak perlu beristirahat yang cukup.
PENTINGNYA IMUNISASI CAMPAK
Semua penyakit yang disebabkan virus bersifat endemis. Artinya bisa muncul kapan saja sepanjang tahun, tidak mengenal musim. Oleh karena itu, menurut Rini, campak pada anak perlu dicegah dengan imunisasi. Apalagi campak banyak menyerang anak usia balita. Seharusnya, vaksin campak tak memiliki efek samping, tapi karena vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan, maka bisa saja satu dari sekian juta virusnya menimbulkan efek samping. Umpamanya, setelah diimunisasi campak, anak jadi panas atau diare.
Sebenarnya bayi mendapatkan antibodi dari ibunya melalui plasenta saat hamil. Namun, antibodi dari ibu pada tubuh bayi itu akan semakin menurun pada usia kesembilan bulan. Lantaran itu, pemberian imunisasi campak dilakukan di usia tersebut. Kemudian, karena tubuh bayi di bawah 9 bulan belum bisa membentuk kekebalan tubuh dengan baik maka pemberian vaksinasi campak diulang di usia 15 bulan dengan imunisasi MMR (Measles, Mumps and Rubella). Dengan vaksinasi ini diharapkan bilapun anak terkena campak, maka dampaknya tidak sampai berat atau fatal karena tubuh sudah memiliki antibodinya.
Hanya saja, karena saat ini terdapat kecurigaan bahwa bahan pengawet pada vaksin MMR dapat memicu autisme, akhirnya pemberian imunisasi campak tidak diulang. Menurut Rini, kekhawatiran itu tidak perlu ada lagi jika anak sudah mencapai usia tiga tahun dan mengalami proses tumbuh kembang yang normal. "Sebaiknya anak divaksinasi saja. Boleh ditunda tapi jangan sampai ditiadakan. Sampai besar pun masih bisa divaksinasi. Lebih baik mencegah daripada mengobati."

BEDANYA DENGAN CAMPAK JERMAN
Campak Jerman atau rubela berbeda dari campak biasa. Pada anak, campak jerman jarang terjadi dan dampaknya tak sampai fatal. "Kalaupun ada biasanya terjadi pada anak yang lebih besar, sekitar usia 5 sampai 14 tahun," kata Rini.
Gejalanya hampir sama dengan campak biasa, seperti flu, batuk, pilek dan demam tinggi. Namun, bercak merah yang timbul tidak akan sampai terlalu parah dan cepat menghilang dalam waktu 3 hari. Nafsu makan penderita juga biasanya menurun karena terjadi pembengkakan limpa.
Yang perlu dikhawatirkan jika campak jerman ini menyerang wanita hamil karena bisa menular pada janin melalui plasenta (ari-ari). Akibatnya, anak yang dilahirkan akan mengalami sindrom rubela kongenital. Mata bayi akan mengalami katarak begitu lahir, ada ketulian, dan ada pengapuran di otak, sehingga anak bisa mengalami keterbelakangan perkembangan.
Jadi, setiap anak perempuan sebaiknya mendapat vaksinasi rubela untuk melindungi janinnya bila ia hamil kelak. Pada anak perempuan kekebalan ini nantinya akan diturunkan kepada bayinya hingga berusia 9 bulan. Rini pun memandang perlunya vaksinasi rubela pada pria, karena campak jerman yang mungkin menjangkitinya bisa menulari sang istri yang tengah hamil.

CAMPAK OMAR

CAMPAK

Seminggu yang lalu omar kena tampek (campak). Tadinya kita bingung, coz gejala campak baru timbul 4 hari setelah omar mengalami panas tinggi. Setelah hari ke-3, kita cek ke dokter, trus dilihat ada bintik merah di dadanya, dokternya curiga DBD. Diperiksalah sampel darahnya. Alhamdulillah everything is ok. kita dikasih resep antibiotik (hal ini yang kadang membuat saya malas ke dokter jika omar sakit dalam waktu yang singkat), dan disuruh tetap mengkonsumsi obat penurun panas. Ga berapa lama, besoknya suhu badan turun, tapi mulai ada bercak merah di pipinya. Hmmm ternyata omar-ku mengalami campak, padahal umur 9 bulan dia sudah imunisasi campak. Kita ga ke dokter lagi. Setelah antibiotiknya habis, campaknya pun menghilang dalam waktu 3 hari.